Jumat, 25 Januari 2013

sumi


Namanya sumi, yang menciap-ciap bak anak ayam berjalan menunduk mengikuti induknya
Namanya sumi, yang terus mengendus-endus seperti marmut
Ya dia sumi, yang kalau kau tak hati-hati kau akan habis dijilati
Tapi dia sumi bukan kucing belang yang sering tidur malas-malasan di kursi tua dekat pekarangan
Ku ingatkan dia itu sumi, mulut yang sama untuk memuji juga mulut yang sama untuk meludahi parahnya mulut itu juga yang dipakai untuk melahap habis
Dan sudah pasti dia sumi, wong kang kudu mbok sumingkiri (orang yang harus kamu jauhi)
Karena dia benar-benar sumi, orang yang rela mencela untuk memiliki
Sudah ku bilang itu sumi, senyumnya manis sekali nyaris seperti gulali lengket yang dijual di pasar malam
Kalau itu sumi matilah kau dicincang rasa benci dari belati yang dia sebarkan seperti benih rumput teki dihati manusia lain yang ada disekeliling mu tanaman ranum
Kau tahu kan rumput teki itu, bandelnya minta ampun
Dicabutpun tangan merah dibuatnya
Kan dia sumi, keburukan tapi sakti
Hati-hati dengan sumi
Dan yang pasti kata simbok kau tidak boleh berganti nama menjadi sumi, itu saru namanya...
kelakuan sumi itu saru
kelakuan sumi

Senin, 14 Januari 2013

muak

Masa depan, cita-cita, kebahagiaan mereka yang terkasihsaya...
Tawa riang, celoteh, kepolosan
anak-anak para buruh pabrik yang belajar calistung di bangunan ini yang kita sebut sekolah
Kerumitan, peluh, pikiran, raga
usaha...

Uluran tangan, ngemong, bimbingan
anda...
Kabut, dingin, hujan, tanah khayalan para dewa yang indah
Dieng...
Tulisan tak jelas arah, kata tak tentu maksud
memuakkan...

Dugaan, kasak-kusuk, pertanyaan
mereka...
Tak mengerti, bertanya-tanya, mengelak sekuat tenaga
saya....
Tatapan itu, tanya itu, tuduhan itu, gurauan itu
sakit hati...

Anda
adalah guru bagi saya
yang mengajarkan tentang lika-liku jalan yang harus ditempuh untuk bersama mereka
Anda adalah anda
yang saya kagumi tulisan tentang kemanusiaannya, tentang hidupnya, tentang pendidikan, tentang kesetiannya pada satu wanita
dan anda adalah anda
yang memasukkan saya pada satu tempat dimana saya merasa malu pada diri saya sendiri
pada mereka pada dia.... atas apa yang tidak pernah saya lakukan atas hal yang sama sekali tidak pernah saya rasakan.

Adakah kesalahan saya?
Jika kemudian anda bercerita tentang entah apa pada mereka
dengan semua yang mereka tuduhkan kepada saya
anda bisa bayangkan saat saya menjadi tersangka bahwa saya yang ke tiga diantara dua

Tidak sedikitpun saya menyimpan perasaan untuk anda
Kalaupun selama ini saya diam, hanya karena rasa hormat saya
Tapi dampak berkepanjangan yang harus saya tanggung sungguh semakin membuat saya sakit hati
saya sakit hati pada perasaan anda sendiri yang seolah itu juga perasaan saya
saya sakit hati pada dugaan mereka tentang saya
saya sakit hati pada rasa sakit yang mungkin timbul di hatinya
wanita anggun yang saya kagumi
orang yang semestinya anda muliakan dan jaga hatinya

Sudah lama berlalu dan saya berusaha untuk menjadi buih dan menghilang
Bukan karena saya membenarkan semua tuduhan mereka
Yang muncul akibat apa yang anda ucapkan kepada mereka
Tapi saya bukan buih!!!
maafkan saya tidak lagi menghormati anda
maafkan saya kalau sekarang saya katakan saya "MUAK" kepada anda

Muak atas apa yang sampai detik ini masih di sangkakan kepada saya
Ya Allah... keluarkan saya dari semua ini...
saya sungguh sakit hati

(saya sudah lupa, tapi krn seorang teman bertanya, saya jadi kembali mengingatnya)

Minggu, 13 Januari 2013

emak


Mak ku bilang begini mak!
Kenapa membentak?!
Sedang dulu kau ku belai lembut penuh kasih
Mak cepatlah mak! Waktu tak pernah mau menunggu!
Kenapa kau terburu-buru? Sedang dulu ku tunggui kau dengan sabar sampai lelapmu.

Jaman sudah menuliskan angka baru
Tapi kasih emak masih seperti kabut yang setia pada lereng Sindoro
Kalau lah keteduhan ini bisa digantikan
Tentulah kau tak kan menangis seperti bocah
Saat emak terkulai lemah raganya digerogoti rengekanmu dari semasa kecil dulu

Emak, kemarilah mak
Biar ku peluk sebentar
Tubuhmu bau tungku
Dulu pun begitu bajuku bau tungku
Emak keringkan dekat perapian
Biar besok aku masih berpakaian

Sini mak dekat-dekat denganku
Dulu kulit emak sekencang dan sehalus ini
Katamu sambil membelai wajahku
Mungkin kenakalanku membuatnya hilang dan berkerut sekarang ini
Emak dengarkan ini...
Aku sangat mencintaimu mak